Jakarta, 18/09/2025 – Onno Center International Foundation, organisasi non-profit Indonesia yang berfokus pada pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT), diduga mengalami kebocoran data besar. Seorang pelaku ancaman mengklaim telah membocorkan database berisi lebih dari 7.100 akun pengguna ke sebuah forum kejahatan siber.

Onno Center dikenal sebagai lembaga yang berperan penting dalam meningkatkan keterampilan teknologi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, agar lebih siap menghadapi persaingan global di era digital.

Data yang Diduga Bocor

Menurut laporan dari situs pemantau insiden siber, database yang dibocorkan berisi sejumlah informasi sensitif, di antaranya:

Pelaku juga membagikan sampel data untuk memvalidasi klaimnya. Namun hingga kini, pihak Onno Center belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait dugaan insiden tersebut.


Risiko dan Dampak

Kebocoran ini berpotensi membawa berbagai risiko bagi pengguna, antara lain:

  1. Phishing dan penipuan digital — email dan nama asli korban bisa dipakai untuk mengirim pesan palsu yang tampak resmi.
  2. Pencurian identitas (identity theft) — data pribadi memungkinkan pelaku menyamar sebagai korban.
  3. Pengambilalihan akun (account takeover) — password yang di-hash tetap bisa diretas jika menggunakan algoritma lemah atau korban memakai kata sandi yang sama di layanan lain.
  4. Eksploitasi token — token pengguna berpotensi digunakan untuk mengakses sesi aktif atau API.
  5. Kerugian reputasi — sebagai lembaga pendidikan, Onno Center sangat bergantung pada kepercayaan publik, dan kebocoran seperti ini dapat merusaknya.

Opini Pakar Keamanan Siber

Pratama Persadha, Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, menilai insiden ini patut diwaspadai. “Banyak pengguna masih memakai password yang sama di berbagai platform. Jika data dari Onno Center bocor, peretas bisa dengan mudah mengambil alih akun email, media sosial, atau bahkan akun finansial korban,” jelasnya.

Sementara itu, Budi Rahardjo, pakar IT dan akademisi, menekankan bahwa banyak institusi di Indonesia belum menempatkan keamanan data sebagai prioritas utama. “Insiden seperti ini seharusnya menjadi wake-up call. Apalagi dengan adanya UU Perlindungan Data Pribadi, organisasi yang lalai bisa menghadapi konsekuensi hukum,” ujarnya.

Dari sisi global, pakar keamanan dari Kaspersky mengingatkan bahwa database bocor selalu dianggap sebagai “komoditas berharga di dark web”. Meskipun password dalam kondisi hashed, tetap ada risiko pembobolan. “Jika hashing lemah atau tidak menggunakan salt, password bisa dipulihkan dan dipakai untuk serangan lanjutan,” tulis laporan Kaspersky.


Perspektif Regulasi dan Etika

Insiden ini juga menyinggung aspek regulasi. Indonesia telah memiliki Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang mengatur kewajiban organisasi dalam melindungi data pribadi. Jika benar terjadi kebocoran, Onno Center bisa diminta bertanggung jawab secara hukum maupun moral.

Selain aspek hukum, lembaga pendidikan dan non-profit memiliki tanggung jawab etis yang lebih besar, karena sering melibatkan data dari pelajar, anak muda, dan masyarakat umum yang mungkin belum sepenuhnya memahami risiko keamanan digital.


Rekomendasi dan Langkah Mitigasi

Bagi pengguna:

Bagi Onno Center:


Penutup

Dugaan kebocoran data yang menimpa Onno Center menjadi pengingat pentingnya keamanan informasi di sektor pendidikan dan non-profit. Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak terkait, indikasi kebocoran ini cukup serius dan menuntut langkah cepat untuk melindungi data pengguna.

Di era digital, keamanan data bukan sekadar kewajiban hukum, tetapi juga fondasi utama dalam menjaga kepercayaan publik.